Sunday, May 31, 2009

Asyiknya Belajar Bahasa Italia

HARUS diakui, budaya Italia belum banyak diketahui bangsa Indonesia. Sejauh ini yang banyak diketahui baru sepenggal-sepenggal bahasa yang dipopulerkan oleh para penyanyi klasik. Dan, Italia tidak hanya Luciano Pavarotti atau Andrea Bocelli.
Bagi sebagian bangsa di Eropa, Italia tidak hanya dikenal bahasanya, tetapi juga imperium dan peninggalan sejarah, pengaruh budayanya, serta musik. Bahkan, hingga kini berbagai istilah musik itu masih digunakan di seluruh dunia. Coba simak istilah-istilah musik seperti largo, lento, larghetto, presto, dan sebagainya yang juga digunakan di Indonesia.
Dalam rangka perkenalan kebudayaan itulah, Pusat Kebudayaan Italia (Instituto Italiano di Cultura/IIC) di Jakarta sejak Oktober 2000 membuka kursus bahasa Italia. Berkat gencarnya promosi lewat pameran, pemutaran film, dan pertunjukan musik, keberadaan IIC mulai dikenal masyarakat Indonesia. Universitas Negeri Jakarta (UNJ-dulu IKIP Jakarta) bahkan sudah memiliki dosen penutur asli bahasa Italia, Antonia Rinaldi. Memang di UNJ belum ada jurusan bahasa Italia, tetapi jurusan musik pada Fakultas Bahasa dan Sastra UNJ mewajibkan belajar bahasa Italia kepada mahasiswanya. "Ada istilah dalam musik yang tak bisa diterjemahkan ke bahasa lain. Bagi mahasiswa yang belajar musik, akan lebih baik bila mengerti bahasa Italia," kata Antonia.
"BELAJAR bahasa Italia itu bisa dikatakan gampang, bagi mereka yang berminat. Bagi mereka yang akan mempelajari seni, bahasa Italia akan sangat membantu karena begitu banyak literatur klasik mengenai hal itu," ujar Wandi S Brata, yang selama dua tahun belajar di Roma dan kini menjadi salah satu pimpinan di Gramedia Pustaka Utama.
Tentang bahasa Italia, pernah ada joke menarik. Konon, bahasa Italia disebut sebagai bahasa Latin yang kasar, bahasa Latin bagi para pekerja kasar. Benarkah? Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, bahasa Italia memang mendekati bahasa Latin, hanya saja pengucapannya sama seperti tulisannya.
Di IIC sendiri, kursus dibagi dalam tiga kategori: kelas principianti (pemula) dengan waktu belajar 60 jam (30 kali pertemuan); kelas elementare I; dan kelas elementare avanzata (lanjutan) dengan jam belajar malam hari pukul 19.00-21.00 setiap Selasa dan Kamis, masing-masing dua jam per hari dalam masa belajar 30 kali pertemuan.
Untuk mendorong peserta serius belajar, manajemen IIC menerapkan aturan persentase kehadiran. Peserta yang kehadirannya kurang dari 70 persen tidak boleh ikut ujian. Dan, kini ada 140 peserta per angkatan. Menurut Direktur IIC Prof Ostelio Remi, jumlah ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebabnya, mereka yang akan melanjutkan studi ke Italia harus fasih berbicara bahasa itu. Selain itu, ada pula peserta yang perlu bisa berbahasa Italia karena bekerja di perusahaan Italia di Indonesia.
"Mereka yang studi lanjut di negara kami harus fasih berbahasa Italia karena seluruh pelajaran menggunakan bahasa Italia. Tak ada program studi dengan bahasa Inggris. No. Kami orang Italia memakai bahasa Italia," ujar Remi.
Dikatakan, program beasiswa kursus bahasa Italia singkat (tiga-enam bulan) maupun pengambilan tingkat magister menambah jumlah peserta kursus bahasa. Tahun 2003 beasiswa diberikan kepada 22 peserta kursus bahasa selama enam bulan di Kota Siena dan Perugia. Tahun 2004 tercatat sekitar 400 pelamar yang memperebutkan 33 beasiswa!
Adeline Laluyan (24) amat berminat menguasai bahasa Italia. "Sejak dulu saya ingin belajar mode dari sisi bisnis. Saya ingin belajar di Milan," tuturnya. Tahun 2002 ia belajar bahasa Italia secara privat dengan biaya Rp 7 juta di Sekolah Inlingua Italia. Setahun kemudian ia masuk Sekolah Media Statale Mortaro, ikut program bahasa dan kebudayaan Italia selama setahun. Meski Adeline batal sekolah di Milan, ia tetap memelihara kemampuan berbahasa Italia dengan ikut kursus di IIC.
SAMA seperti metode belajar bahasa di pusat-pusat kebudayaan asing, kursus di IIC lebih menekankan pemahaman teks, fasih berbicara, mampu mendengarkan, serta mahir menulis. "Dalam mempelajari bahasa, unsur-unsur itu sama pentingnya," ungkap Antonia Rinaldi. Maka, semua unsur mendapat porsi sama, termasuk pada ujian tiap level.
Agar tak jenuh, IIC melengkapi pelajaran dengan CD-ROM guna melatih kemahiran mendengarkan dan pengucapan, serta ada program jalan-jalan di luar kelas, selain 2.000 buku yang tersedia di perpustakaan.
Proses belajar-mengajar pun dilaksanakan sepenuhnya dalam bahasa Italia. Di kelas Filomena di Mieri, misalnya, saat Kompas masuk ada siswa yang menyapa dengan bahasa Indonesia. Filomena pun langsung menegurnya.
Untuk mempercepat dan menjaga penguasaan bahasa Italia, Prof Ostelio Remi sepanjang tahun menyuguhkan beragam acara mulai dari pemutaran film, konser musik klasik maupun kontemporer, opera, sampai kursus memasak masakan khas Italia. Tanggal 27-29 Juni lalu, umpamanya, IIC menampilkan Roberto Magris Quartet, kelompok seniman musik kaliber dunia asal Italia, di Jakarta. "Acara itu buat saya amat bermanfaat. Maklum, di Jakarta tak banyak komunitas Italia," tutur Adeline.
Bagi pencinta bahasa dan budaya Italia, jangan khawatir kemampuan berbahasa Italia akan hilang. Kini Prof Remi telah menyiapkan acara untuk sepanjang tahun 2005. (tri/ton)

5 comments:

  1. belaja online nya gimana??
    Kalo harus ke Jakarta kejauhan :(
    padahal pengen banget belajar bahasa Italia....

    ReplyDelete
  2. Saya juga mahasiswa UNJ,mau cari juga ni tempat les Bhsa ITALIA

    ReplyDelete
  3. I am italian native teacher, I live in Jakarta this is my email is amrabdelnaby2013@gmail.com

    ReplyDelete